KEKERASAN PADA ANAK SEKOLAH

January 31, 2010 at 9:29 am Leave a comment

KEKERASAN PADA ANAK SEKOLAH: TINJAUAN PERSPEKTIF SOSIALISASI INDIVIDU

Iin Mayasari

Pengajar di Universitas Paramadina Jakarta dan Anggota In Teach In Organization

Kasus kekerasan fisik, psikis bahkan pelecehan yang terjadi di lingkungan Institut Pemerintahan Dalam Negeri masih hangat tersimpan dalam pikiran kita sebagai kaum pendidik di dunia berbagi ilmu pengetahuan. Kasus itu hanya merupakan satu dari ribuan kasus yang ada di dunia pendidikan Indonesia bahkan di dunia ini secara luas dan merupakan masalah pelik dalam dunia sekolah sebagai medium pendidikan yang belum berkesudahan. Kekerasan lain yang ditimbulkan bisa meliputi bullying, hukuman, pelecehan seksual bahan adanya geng yang bisa mendorong pada tawuran remaja. Data Komisi Nasional Perlindungan Anak menunjukkan bahwa kasus kekerasan fisik, seksual dan psikis sejak tahun 2006 makin menunjukkan peningkatan. Kekerasan ini bisa dianggap sebagai kenakalan remaja yang terjadi pada usia ketika remaja sedang mencari suatu identititas diri. Masa dalam usia ini merupakan masa kritis remaja sehingga mudah mendapat pengaruh yang tidak bisa dikontrol dengan baik oleh remaja itu sendiri, keluarga, bahkan sekolah tempat remaja tersebut belajar.

Sebagai individu yang bergerak dalam dunia pendidikan, menanggapi kasus kekerasan pada remaja menyadarkan diri bahwa masalah pelik ini bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah semata. Memang tidak dipungkiri, bahwa sekolah merupakan salah satu tempat paling aman bagi anak-anak dan kaum muda untuk menimba ilmu dan pihak sekolah yang bertanggung jawab atas proses transfer pengetahuan anak sekolah. Namun, proses sesungguhnya yang terjadi bahwa kehidupan anak sekolah tidak berada selama 24 jam di bawah lingkungan sekolah. Anak sekolah berada dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, ketiga elemen ini sebagai bagian dari aspek sosialiasi anak sekolah makin digalakkan dan diperkuat.

Arnett (1995) mendefinisi sosialisasi sebagai suatu proses yang dilalui oleh seseorang untuk belajar perilaku dan keyakinan tentang dunia sosial budaya di lingkungan individu berada. Proses sosialisasi melalui tiga aspek yaitu pola komunikasi keluarga, pengaruh teman, dan media. Memahami kekerasan pada anak sekolah bisa dipahami dari ketiga elemen ini sebagai bagian dari perspektif sosialiasi. Pola komunikasi memiliki dimensi orientasi sosial dan konsep (Moschis & Mitchell, 1986). Komunikasi yang berorientasi sosial adalah jenis komunikasi yang dirancang untuk menghasilkan rasa hormat dan menjunjung keharmonisan, serta kenyamanan hubungan sosial di rumah. Anak dari keluarga ini diminta untuk menghindari kontroversi dan tidak membantah. Individu cenderung bertindak untuk mengikuti pola keluarga. Pola komunikasi yang berorientasi sosial menanamkan dalam diri anak bahwa membantah atau berdebat adalah sesuatu yang salah. Kebenaran cenderung menjadi milik orang tua. Kondisi ini secara tidak langsung menciptakan proteksi tinggi bagi anak agar tidak melakukan sesuatu yang dianggap sebagai sesuatu yang salah di mata orang tua mereka. Akibatnya, anak mengalami kondisi tertekan dan tidak berkeinginan untuk menceritakan perasaan mereka kepada orang tua karena merasa takut atau tidak enak. Di samping itu, pola komunikasi yang berorientasi sosial ini, cenderung menciptakan anak mengikuti apa yang dimaui oleh orang tua. Anak akan selalu melihat pola atau kebiasaan di rumah. Anak tidak berani menanyakan atau memprotes perilaku orang tua. Di samping itu, pendekatan komunikasi sosial bisa menimbulkan konsekuensi ekstrim yaitu diberikan hukuman. Hukuman biasanya dilakukan oleh orang tua yang disebabkan anak tidak memenuhi kehendak orang tua. Hukuman ini bisa dua macam yaitu hukuman emosional yaitu dikucilkan, didiamkan oleh orang tua, dan dilarang untuk mengikuti kegiatan lainnya; sedangkan hukuman fisik bisa dalam bentuk pemukulan, pencubitan, penamparan, atau pengurangan dalam kamar. Bisa saja hal ini terjadi, jika orang tua cenderung menunjukkan kekerasan ketika mendidik anak dalam keluarga, maka dalam pikiran anak akan timbul pemikiran bahwa melakukan kekerasan diperbolehkan saja.

Sementara itu, komunikasi yang berorientasi konsep adalah pola komunikasi yang terfokus pada pada batasan positif yang membantu individu untuk mengembangkan pandangannya sendiri tentang dunia. Para orangtua akan mendorong anak-anaknya untuk menimbang semua alternatif sebelum membuat keputusan, atau mungkin membiarkan terjadinya kontroversi, misalnya dengan membiarkan adanya perbedaan isu secara terbuka untuk didiskusikan. Penekanan komunikasi yang berorientasi konsep, menimbulkan lingkungan kondusif bagi terciptanya kondisi psikologi anak untuk berbagi cerita dengan orang tua. Anak menjadi berani untuk mengungkapkan pendapat dan bisa menceritakan isi hati kepada orang tua. Orang tua menjadi figur yang ideal dan bisa dipercaya untuk menangani masalah. Orang tua juga dipersepsi menjadi sahabat baik yang bisa diandalkan. Dengan demikian, anak akan berpikir bahwa keluarga merupakan tempat yang tepat untuk berbagi dan tidak mencari-cari figur lain.

Pendekatan sosialisasi dari sisi keluarga dengan memahami pola komunikasi keluarga sebagai pola asuh dapat memberikan gambaran yang singkat bahwa pemilihan pola komunikasi ini penting diterapkan dalam keluarga. Pola komunikasi yang cenderung positif untuk dipilih agar tidak tercipta kekerasan adalah pola komunikasi konsep. Tidak dipungkiri bahwa, di Indonesia, pola komunikasi yang diterapkan adalah mayoritas komunikasi sosial, di mana anak “sendhiko dhawuh” pada orang tua, artinya anak harus menurut pada orang tua. Orang tua cenderung menekankan pendekatan represif pada anak. Anak cenderung tidak diberikan kebebasan untuk mengeluarkan ide-ide kreatif. Konsekuensinya, adalah anak cenderung mencari pelampiasan di luar rumah. Secara ideal, pendekatan komunikasi yang berorientasi konsep cenderung lebih positif dalam menekankan kekerasan pada remaja. Anak diajak diskusi secara aktif mengenai nilai-nilai kehidupan yang boleh dilakukan atau yang tidak boleh dilakukan. Dengan demikian, anak mendapatkan gambaran ideal mengenai kehidupan sosial secara suka rela dan tidak tertekan.

Selain pola komunikasi keluarga, aspek lingkungan masyarakat dalam hal ini kelompok referensi bisa menjadi faktor timbulnya kekerasan pada remaja. Pengaruh sosial dalam kehidupan ini bisa dibedakan ke dalam dua hal yaitu pengaruh sosial informasional dan sosial normatif (Park & Lessig, 1977). Pengaruh sosial informasional merujuk pada pengaruh untuk menerima informasi dari orang lain; sedangkan pengaruh sosial normatif merujuk pada pengaruh untuk mengkonfirmasi harapan orang atau kelompok lain. Apabila tekanan sosial cukup kuat dan individu tidak mampu memiliki mekanisme pertahanan diri, maka individu mudah melakukan imitasi perilaku pada lingkungan sosialnya. Kecenderungan yang ada adalah teman merupakan agen sosialisasi yang ampuh untuk membentuk perilaku anak sekolah. Teman merupakan kelompok referensi yang bisa memberikan arahan, panutan, model, dan nilai-nilai yang dianggap ideal pada zamannya. Pengaruh teman sebagai kelompok referensi bisa memiliki dua sisi baik positif maupun negatif. Sisi positif teman sebagai kelompok referensi adalah sebagai media untuk berbagi cerita karena dianggap memiliki kesamaan nilai dan pemikiran. Teman bisa menjadi motivator dalam kegiatan positif misalnya kursus bersama, belajar bersama bahkan menekuni hobi yang sama. Namun, teman sebagai kelompok referensi bisa sebagai pisau bermata dua. Teman bisa mempengaruhi orang lain untuk bertindak negatif. Geng atau perkumpulan remaja yang cenderung mengarah pada aspek negatif yang terjadi pada beberapa akhir ini misalnya geng Motor atau Nero. Geng atau kelompok ini merupakan kelompok tidak formal dan di luar struktur sekolah yang biasanya melakukan sesuatu tidak pada konteks kurikulum sekolah. Geng ini cenderung mengawali kegiatan dengan tindakan fisik antara lain membawa minuman keras, senjata tajam, narkoba, bahkan hal-hal yang berkaitan dengan pornografi.

Apabila pengaruh teman yang tergabung dalam suatu geng ini cukup kuat dan bisa membentuk pengaruh normatif, maka setiap individu yang berinteraksi dengan geng ini memiliki kewajiban untuk mengikuti tindakan dalam geng tersebut. Konsekuensinya, apabila anak sekolah tidak mengikuti ini, anak akan dikucilkan atau konsekuensi ekstrim lainnya anak menjadi korban kekerasan pada geng itu.

Oleh karena itu, memilih teman sebagai kelompok referensi menjadi suatu pilihan yang membutuhkan kehati-hatian yang tinggi. Anak harus didampingi oleh keluarga dan guru sebagai pendidik di sekolah agar bisa terhindar dari ini. Langkah praktis dalam hal ini bisa meliputi dua cara yaitu keaktifan pihak sekolah dan partisipasi masyarakat. Pihak sekolah bisa melakukan beberapa cara. Pertama, menerapkan Program Anti Kekerasan. Program ini harus disosialisasikan secara intensif khususnya pada awal ajaran pendidikan baru. Sekolah bisa membuat program ini secara kreatif misalnya membuat poster, stiker. Kedua, mengaktifkan Lembaga Konseling. Lembaga ini jangan bersifat aktif ketika ada masalah. Sekolah bisa memberikan kesempatan bagi anak untuk mengadakan pertemuan rutin pada periode tertentu agar anak sekolah bisa memiliki media untuk memberikan curahan hati. Ketika, menerapkan kode etik dan sanksi secara jelas. Dari pihak masyarakat, masyarakat sebagai bagian lingkungan anak sekolah harus turut serta andil dalam membantu mitigasi kekerasan yang timbul dalam dunia pergaulan. Hal ini bisa digalakkan dari pihak yang paling sederhana yaitu kepala RT, RW, bahkan siskamling yang tujuannya untuk mengawasi pola interaksi anak sekolah dalam masyarakat.

Aspek yang tidak kalah penting dalam proses sosialisasi adalah media massa. Media massa ini meliputi dimensi elektronik maupun non-elektronik serta online maupun offline. Salah satu media massa yang mudah dijadikan sebagai alat untuk komunikasi adalah televisi. Ketika individu berinteraksi dengan televisi dan memperoleh berbagai informasi, individu akan dapat mengembangkan berbagai pengetahuan, sikap, dan perilaku termasuk pengetahuan dan keterampilan individu.

O’Guinn dan Shrum (1997) berpendapat bahwa menonton televisi bisa mendapatkan informasi, pengetahuan dan pendidikan. Televisi menambah pengetahuan. Namun demikian, ada sisi negatif dari televisi sebagai media massa dalam memberikan informasi kepada anak sekolah. Pengaruh yang tercipta oleh media televisi bisa mempercepat kehancuran nilai-nilai agama dan moral tradisional dari pemirsanya. Komunikasi tanpa batas telah banyak mengakibatkan pergeseran moral. Banyak tayangan televisi saat ini yang sudah kehilangan fungsi. Yang seharusnya memberikan hiburan untuk membangun ahklak malah melukai pemirsa baik-anak-anak maupun dewasa. Oleh karena itu, individu yang memiliki frekuensi tinggi berinteraksi dengan televisi, akan mudah menerima tayangan yang diberikan oleh televisi. Televisi sebagai media penyebar informasi seharusnya ikut bertanggung jawab dalam memberikan aspek edukasi yang bisa mengajarkan anak sekolah untuk menghindari kekerasan.

Media massa yang saat ini sedang mengalami “booming” adalah penggunaan face book, short message service atau blogging. Sing, Jakcson, Cullinane (2008) berpendapat bahwa era internet sekarang ini sudah memasuki web 2.0 artinya telah tercipta suatu interaksi luar biasa antar individu dalam dunia maya atau online. Media ini juga memberikan kontribusi bagi penyebaran informasi yang luar biasa bagi anak remaja. Di samping itu, media tersebut sesuai dengan kondisi psikologi individu yang menginginkan sesuatu baru dan bersifat coba-coba. Dengan demikian, hal ini memudahkan bagi mereka untuk berinteraksi dengan orang lain tanpa mengenal batas umur, lokasi dan waktu. Interaksi ini bisa memberikan kesempatan anak sekolah untuk memperoleh informasi yang bersifat baik negatif maupun positif. Apabila anak sekolah tidak mendapatkan filter untuk menerima informasi dari media tersebut, maka akan ada konsekuensi yang cenderung negatif. Informasi yang negatif ini bisa berupa pesan-pesan yang mengarah pada kekerasan. Informasi yang diterima oleh anak sekolah melalui media tersebut menjadi sulit untuk dibendung. Buzz words yang dikirim melalui media tersebut menjadi senjata ampuh untuk mempengaruhi sikap dan perilaku. Oleh karena itu, harus ada suatu kontrol terhadap penggunaan media ini misalnya ada suatu sistem pengaman.

Perspektif sosialisasi anak sekolah ini bukan hal yang baru dalam memahami terjadinya kekerasan dalam dunia anak sekolah. Namun, paling tidak perspektif sosialisasi ini bisa mengingatkan dan memperkuat pemikiran bahwa ketiga elemen ini merupakan elemen manunggal yang menjadi kontribusi pembentuk sikap dan perilaku anak sekolah. Hal ini penting sekali diperhatikan karena anak sekolah adalah generasi penerus kita semua. Jangan sampai mereka terjerumus pada kenakalan yang lebih berbahaya. Kita yang nantinya harus bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah yang belum berkesudahan ini.

DATA PUSTAKA

Arnett, J.J. 1995. Broad and narrow socialization: The family in the context of cultural theory. Journal of Marriage and the Family, 57: 617-628.

O’Guinn, T.C., & Shrum, L.J. 1997. The role of television in the construction of consumer reality. Journal of Consumer research, 23: 278-294.

Park, C.W., & Lessig, V.P. 1977. Students and housewives: Differences in susceptibility to reference group influences. Journal of Consumer Research, 4: 102-110.

Singh, T., Jackson, L.V., Cullinane, J. 2008. Blogging: A new play in your marketing gameplan. Business Horizons, 51;;81-292.

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

GBPP Seminar Manajemen Pemasaran MANAGING CAREER

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

January 2010
M T W T F S S
    Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: