Resensi Buku

January 30, 2010 at 1:36 pm Leave a comment

RESENSI BUKU

Title: Ecological Intelligence-How Knowing the Hidden Impacts of What We Buy can Change Everything

Penulis: Daniel Goleman

Penerbit: Broadway Books, The Crown Publishing Groups

Bahasa: Inggris

Format: Hard Cover

Jumlah Halaman: 276

Nomor ISBN:  978-0-385-52782-8


Buku ini relevan untuk dibahas dalam bidang marketing karena orientasi perusahaan maupun konsumen saat ini sudah mulai diarahkan pada aspek kesadaran lingkungan. Banyak perusahaan yang memiliki posisi sebagai market leader sudah menerapkan pengembangan produk yang menekankan ramah lingkungan bahkan perbankan sudah mula menerapkan “asas-asas hijau” dalam setiap penawaran produknya. Perusahaan menerapkan hal ini karena kesadaran diri dari para pemimpinnya untuk memperhatikan keadaan lingkungan bumi ini dari segala konsekuensi kegiatan bisnisnya. Dari sisi konsumen, banyak konsumen yang sudah sadar diri dan memiliki pengetahuan kognitif maupun emosional yang cukup untuk bisa melakukan konsumsi produk yang ramah lingkungan. Produk-produk dari Body Shop maupun produk organik menjadi trend saat ini. Tentu saja, konsumen melakukan ini semua juga berdasarkan kemampuan dan memahami segala risikonya.

Kesadaran akan pentingnya mengenai penciptaan produk yang ramah lingkungan oleh perusahaan dan kesadaran diri dari konsumen untuk mempertimbangkan pilihan produk, menurut Goleman, hanya bisa dilakukan dengan baik dan optimal, apabila individu dan perusahaan sama-sama memiliki intelijensi ekologi. Goleman menjelaskan mengenai intelijensi ekologi manusia untuk digunakan dalam mempertimbangkan dampak setiap barang yang dibeli dan dikonsumsi bagi dirinya sendiri, orang luar lain maupun keluarga. Ecological Intelligence merupakan karya Goleman sesesudah Working with Emotional Intelligence dan Social Intelligence: The New Science of Human Relationship. Barang yang kita beli sehari-hari secara tidak sadar akan membawa dampak khususnya negatif pada diri kita sendiri, lingkungan tempat tinggal, dan lebih parah keberlangsungan hidup di dunia ini. Kemampuan individu untuk memahami pembelian produk yang dibeli tidak terpaku pada label “hijau” yang ditempelkan pada produk. Namun, buku ini menjelaskan perlunya transparansi radikal yang melekat pada produk. Produk dijelaskan secara konkrit dan elaboratif mengenai komponen-komponen yang membentuknya. Hanya individu yang memiliki intelijensi ekologi yang mampu menelaah sisi negatif produk yang dibeli. Goleman juga menekankan bahwa individu yang memiliki intelijensi ekologi juga memiliki kombinasi kemampuan sosial dan emosi.

Goleman menekankan bahwa intelijensi ekologi menjadi penting ketika pada abad 21 ini, individu sudah mulai kekurangan sensitivitas terhadap lingkungan. Manusia tidak memperhatikan setiap dampak aktivitasnya pada lingkungan sekitar, dan tidak pernah mengaitkannya dengan sistem alam.  Intelijensi ekologi berkaitan dengan ekologi. Ekologi menunjukkan pemahaman terhadap organisme dan ekosistem dan intelijensi menunjukkan kapasitas untuk belajar dari pengalaman dan berhubungan dengan lingkungan secara efektif. Jadi intelijensi ekologi adalah mengarahkan kita untuk memahami bahwa apa yang kita pelajari sebagai aktivitas manusia akan memberi dampak pada ekosistem yang tidak membahayakan dan bisa mempertahankan hidup lebih lama dan baik. Intelijensi ekosistem menggabungkan keahlian kognitif dan empati pada semua kehidupan. Intelijensi emosi dan sosial dibangun untuk memahami perspektif orang lain, ikut merasakan, dan menunjukkan perhatian kita kepada mereka, sedangkan intelijensi ekologi menunjukkan kapasitas manusia untuk lebih dari sekedar memiliki intelijensi emosi dan sosial.  Empati  kita terhadap lingkungan membantu pemikiran dan analisis secara rasional terhadap sebab akibat perilaku kita semua terhadap lingkungan. Otak kita tidak memiliki sistem kemampuan yang didesain untuk memahami sejumlah hal yang tidak bisa terhitung mengenai dampak negatif aktivitas manusia. Komponen amygdala-lah yang menjadi sensor secara emosional untuk mengarahkan konsumen berpikir pilihan produk yang aman.  Kita sendirilah yang harus memperoleh dan mengembangkan sensitivitas terhadap sesuatu yang menjadi ancaman dan mempelajari apa yang bisa kita perbuat.

Intelijensi ekologi mengarahkan kita untuk memiliki sistem pengetahuan komprehensif terhadap lingkungan dan dunia buatan manusia.

Berkaitan dengan konteks organisasi, intelijensi ekologi merupakan intelijensi yang sifatnya harus dibagi dan didistribusikan sehingga menjadi intelijensi yang kolektif dan bersama. Organisasi yang besar terdiri atas individu-individu yang memiliki intelijensi. Intelijensi yang tersebar ini menjadi sinergi dengan intelijensi sosial yang memberikan kapasitas untuk mengkoordinasi dan melakukan harmonisasi satu sama lain. Seni untuk bekerja sama secara efektif dan dikombinasi dengan kemampuan seperti empati dan perspektif membantu (helping perspective) akan menciptakan intelijensi kolaboratif terhadap tujuan pemahaman ekologi. Ketika menjadi tujuan ekologi yang kolektif, kita akan mengetahui 1) mengetahui setiap dampaknya, 2) melakukan perbaikan, 3) bagi apa yang dipelajari.

Berkaitan dengan konteks individu sebagai konsumen, buku ini juga menjelaskan bahwa kalau dikaitkan dengan pembelian secara individual dalam konteks keluarga, memiliki anak menjadi pendorong konsumen untuk memperhatikan tampilan informasi secara lebih lengkap. Konteks keluarga menjelaskan bahwa intelijensi ekologi berperan di sini. Goleman menekankan bahwa intelijensi ekologi merupakan gabungan dari intelejensi emosi dan sosial. Intelejensi emosi menunjukkan bagaimana kepekaan seorang ibu untuk menentukan produk yang tidak mengandung sesuatu yang membahayakan bagi kesehatan keluarga. Dengan demikian, seorang ibu akan merasa khawatir apabila membeli produk yang mengandung zat pewarna, banyak bahan pengawet, pembuatannya tidak memperhatikan standar kesehatan, atau produk tidak memiliki sertifikasi. Trend akan eco-mom sedang terjadi. Ibu sebagai konsumen perempuan lebih emosional dalam memilih produk karena memperhatikan segala dampaknya bagi anak dan keluarga mereka. Namun ada kalanya, belanja merupakan kegiatan rutin bagi seorang ibu, sehingga seringkali tidak memperhatikan dengan detail setiap informasi yang tertera dalam produk. Rutinitas pembelian menyebabkan ibu tidak bersedia pindah ke merek lain yang mungkin sebenarnya jauh lebih memiliki aspek nutrisi, dampak lingkungan dan sosial yang lebih baik. Mungkin saja, perpindahan ke merek lain susah dilakukan karena harus diawali dengan proses pembelajaran yang lebih lama dan memulai dengan hal baru. Tidak ada salahnya, ibu rumah tangga sebagai seorang konsumen mulai memerhatikan aktivitas pembelian meskipun sudah menjadi rutinitas.

Konsekuensi intelijensi ekologi mempertimbangkan segala bentuk yang berakibat pada:

1)      geosphere yang meliputi tanah, air, udara, iklim. Penggunaan carbon footprint dalam semua produk dari manufacturing, transport, penggunaan, sampai disposal produk bahkan paling sederhana pada botol shampo akan berdampak pada lingkungan. Konsep eutrophication merupakan konsep untuk mengukur dampak pada air. Ketika nitrogen dan fosfor masuk ke air, penyubur kimia ini menciptakan pertumbuhan ganggang secara eksplosif yang akhirnya dapat mengurangi oksigen dalam air.

2)      biosphere yang meliputi tubuh manusia maupun hewan lain serta kehidupan tanaman. Sistem bumi memiliki keterbatasan dalam menopang kehidupan, begitu pula sistem yang terjadi dalam tubuh manusia. Ekosistem yang ada dalam tubuh kita berinteraksi dengan indera kita. Dampak negatif lainnya adalah kanker, DALY-disability adjusted life years, kehilangan biodiversitas.

3)      sociosphere yang meliputi perhatian terhadap manusia termasuk kondisi kerja. Hal ini berkaitan dengan produk yang dibuat oleh perusahaan. Pertimbangan yang diajukan adalah produk yang dibuat memperhatikan komunitas lokal, meningkatkan derajat wanita, mempertimbangkan upah minimum, memberi perhatian pada kondisi kerja yang positif, tidak menggunakan anak di bawah umum.

Kita semua sebagai pengguna barang setiap hari tanpa menyadari akan melakukan pembelian tanpa melakukan pertimbangan seksama mengenai komposisi barang atau produk yang dibeli. Penggunaan bahan kimia yang terkandung di dalamnya misalnya tanpa disadari dapat mempengaruhi dampak selanjutnya pada tubuh maupun lingkungan di sekitar. Komposisi produk atau produk yang dibeli seringnya tidak dicantumkan secara eksplisit. Apabila konsumen mengetahui dan memiliki nilai-nilai ekologi, maka tentu saja akan berpikir sebelum membeli. Ada aspek rasionalitas mendasari pembuatan keputusan konsumen. Buku ini menjelaskan transparansi  radikal yang menunjukkan bahwa sebuah produk berkaitan dengan sejumlah dampak penggunaan produk antara lain mengenai jejak karbon, bahan kimia, perlakuan pada para pekerja yang membuat produk, serta dampak pada limbahnya. Perusahaan tidak hanya cukup memasang label eco green, againts animal testing, protect our planet, dan defend human right, tetapi juga merupakan kombinasi dengan aspek transparansi yang lain. Perusahaan harus menyadari bahwa meningkatnya suhu bumi, badai, kekeringan yang berkepanjangan, serta hujan yang tidak menyesuaikan musimnya, secara tidak langsung juga ada campur tangan dampak perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya. Transparansi radikal meliputi keseluruhan siklus hidup produk dan setiap konsekuensinya pada setiap tahapan. Transparansi radikal merupakan suatu upaya agar pelaku bisnis selalu mengaitkan strategi bisnis dengan hal ini. Fokus pada transparansi radikal tidak bisa dilakukan secara revolusioner namun dilakukan secara evolusioner. Transparansi radikal menyebabkan perusahaan untuk menciptakan kompetisi baru yang nantinya menjadi daya saing perusahaan.

Goleman mengetengahkan konsep Life Cycle Assement (LCA) sebagai metode praktis transparansi radikal  yang memfokuskan pada suatu metode untuk menguraikan komponen-komponen yang membentuk suatu produk beserta polusi yang dihasilkan serta toksin yang terkandung proses produk. Beberapa contoh:

1)      Efek komponen produk berkaitan satu sama lain, misalnya caustic soda, produk ini akan meliputi klorida sodium, limestone, amonia, bahan bakar, dan transport. Di samping itu juga membutuhkan penggunaan air, mineral, energi dan transport. Para supplier yang menyuplai komponen-komponen caustic soda juga harus diteliti apakah komponen-komponen yang dipilih membawa dampak negatif pada lingkungan.

2)      Contoh lain yang dikemukakan adalah sebuat cangkir kertas membutuhkan 33 gram kayu dan polystyrene sebanyak 4 gram. Melalui LCA setiap individu bisa mengetahui konsekuensi produk yang dibeli pada kesehatan manusia, ekosistem, perubahan iklim, dan penipisan sumber daya.

3)      Pembuatan baju atau kaos perlu diperhatikan juga komponennya. Kaos dibuat dari kapas. Kapas membutuhkan sejumlah jutaan liter air. Penggunaan air dalam jumlah yang besar dapat mengeringkan tanah, sehingga bisa mengubah ekosistem. Hal ini juga menjadi perhatian dalam memutuskan untuk membeli produk baju. Pembelian produk baju tidak hanya dipilih berdasarkan label “greenwashing” tetapi memperhatikan komponen-komponen pembentuk kain. Label greenwashing hanya merupakan eco-myopia yang bisa saja membuat konsumen terkesan sesaat bahwa pengolahan produk sudah memperhatikan aspek lingkungan. Greening tidak berarti sekedar bersifat hijau, tetapi juga proses.

Metode Life Cycle Assessment bisa berjalan dengan baik jika didukung oleh adanya kemampuan atau intelijensi ekologi konsumen. Kemampuan ini didasarkan dari sistem persepsi individu. Persepsi  individu membantu dalam mendeteksi bahaya mengenai penggunaan produk. Otak manusia harus bekerja keras untuk menafsirkan stimulis produk. Meskipun konsumen secara individual yang memiliki intelijensi ekologi, konsumen individual ini juga yang menjadi komponen dalam masyarakat bahkan perusahaan. Oleh karena itu, ketiga komponen ini saling melakukan koordinasi untuk memperhatikan lingkungan.

Goleman mengungkapkan bahwa salah satu aspek penerapan dari konsep Life Cycle Assessment adalah konsep LEED yaitu Leadership in Energy and Environmental Design. Konsep ini merupakan untuk penilaian atau rating untuk desain bangunan yang menerapkan aspek konsep green yang dikembangkan oleh US Green Building Council pada tahun 1998. LEED bisa digunakan untuk menilai pada bangunan publik maupun pemukiman individu. Green Building Council menerapkan sejumlah aspek yang dikategorikan sebagai green building meliputi lokasi bangunan, efisiensi penggunaan air, pemeliharaan energi dan atmosfer bumi, pengelolaan sumber daya, kualitas lingkungan internal, proses desain dan inovasi produk, kesadaran dan pendidikan, prioritas lokal. Apabila perusahaan berniat untuk mendapatkan sertifikasi ini, perusahaan harus mengisi sejumlah pertanyaan yang berkaitan dengan aspek-aspek tersebut hingga mendapatkan 100 poin. Di Indonesia, perusahaan-perusahaan tertentu sudah mulai menerapkan LEED. Salah satunya adalah Songco Widya Engineering konstruksi yang bergerak di bidang gedung-gedung industrial seperti gudang, fondasi, jalan, dan bangunan-bangunan industri lainnya menerapkan LEED di Indonesia. Semua design tidak hanya memperhitungkan segi keindahan, tetapi juga segi kelangsungan dari bangunan tersebut. Ini merupakan tanda dari keinginan untuk menciptakan bangunan yang lebih baik dan mengintegrasikannya ke komunitas yang lebih besar.

Kegiatan dalam  perilaku konsumen untuk memutuskan pembelian produk secara rutin setiap harinya, menuntut agar produk dijual dengan harga terjangkau dengan mengabaikan dampak negatif penggunaan produk. Harga murah merupakan faktor pendorong utama. Informasi mengenai tambahan konsekuensi produk menjadi terabaikan karena penyediaan informasi tersebut akan menambah biaya. Meskipun perusahaan sudah menempelkan label ecolabeling pada produk, informasi ini belum menguraikan secara garis besar mengenai dampak tersembunyi terhadap produk yang nampaknya ramah lingkungan. Sedikit perusahaan berkeinginan untuk melakukan sharing informasi. Sistem informasi yang tidak simetris antara perusahaan dan konsumen menyebabkan terciptanya gap data. Informasi memiliki suatu nilai yaitu pengetahuan yang dapat ditransfer ke konsumen misalnya No CFCs-(the ozone depleting chlorofluorocarbon). Ketika sebuah produk tertera informasi, konsumen tidak akan melakukan komparasi informasi. Terlebih kalau konsumen memiliki loyalitas merek, maka konsumen akan mempercayai informasi yang diberikan oleh merek tanpa mengolah informasi lebih lanjut karena konsumen sudah memilik kepercayaan akan kualitas produk.

Goleman tidak hanya menekankan pentingnya intelijensi ekologi untuk dikembangkan dalam diri manusia, tetapi juga memberikan himbauan dan penjelasan bagaimana perusahaan-perusahaan besar juga turut membantu terciptanya lingkungan di bumi dengan baik. Ada beberapa contoh perusahaan yang menjadi perhatian ditangani secara serius.

1)      Misalnya, ada suatu kejadian di perusahaan Amerika yang bergerak di bidang ritel harus mengorbankan para pekerjanya karena kompetisi kerja. Para pekerja ini harus bekerja kerja sampai menjadi korban kecelakaan kerja. Perusahaan menuntut para pekerjanya bekerja memenuhi target agar bisa memenangkan persaingan dengan membuat produk baju yang selalu mengikuti perubahan gaya dan tuntutan konsumen.

2)      Nike juga menjadi perusahaan yang disorot tidak memperhatikan aspek legal dalam memproduksi sepatu di Ho Chi Minh City. Para pekerjanya menghirup toksin karena lingkungan kerja tidak mendukung kenyamanan fisik.

3)      Label nutrisi juga menjadi perhatian. Konsumen harus mampu membedakan informasi nutrisi yang mengandung trans fat atau tidak. Ini menjadi fokus penting karena akan membahayakan kesehatan.

4)      Kasus lain berkaitan dengan tidak adanya transparansi yaitu pada tahun 2000, industri mobil SUV mendapat kecaman dari publik karena kendaraan SUV tidak menjamin keselamatan. Terdapat 271 kecelakaan karena menggunakan kendaraan ini.

5)      Industri konstruksi juga dihadapkan pada dilema untuk menetapkan harga yang relevan kepada konsumen. Seringkali, perusahaan ini menginginkan untuk memenangkan proyek dengan memasang harga terendah. Padahal, harga terendah ini tidak mungkin mencakup biaya untuk mengembangkan sistem energi yang ramah lingkungan apalagi mengikuti sistem sertifikat  Leadership in Energy and Environment Design.

6)      Coca Cola pernah mendapat kecaman ketika di India pada kurun waktu 2004 dan 2005 karena telah menggunakan air untuk ribuan botol Coca Cola padahal di desa Kerala India sedang mengalami kekeringan panjang. Akhirnya perusahaan melakukan edukasi diri mengenai penggunaan air dalam kondisi kekurangan air  dengan mengembangkan rainfall harvesting system.

GoodGuide merupakan contoh bagus sebagai perusahaan yang sudah menerapkan bagaimana memberikan informasi yang lengkap kepada konsumen yang melakukan pembelian produk. Dengan teknologi versi Beta, pembeli bisa memastikan bar code pada produk untuk diketahui level dampak penggunaan produk pada lingkungan, kesehatan dan aspek sosial. Begitu juga P & G juga mulai mengembangkan Life Cycle Analysis untuk mengetahui dampak energi yang digunakan dari pembuatan pampers sampai shampoo. Di samping itu, memahami para supplier juga penting untuk diperhatikan.  Standarisasi produk dari supplier harus memenuhi sertifikasi. Produk yang ramah lingkungan tidak hanya dibuat tanpa memperhatikan bahan baku untuk membuat produk tersebut. P & G menerapkan aspek lingkungan dalam setiap pengembangan strategi yang disusun. Wal-Mart juga memperhatikan para supplier produknya serta mengembangkan packaging scorecard untuk mengukur efisiensi kemasan produk.  Wal-Mart mengembangkan pembelajaran yang kolaboratif dan memiliki orientasi untuk berbagi pengetahuan. Di Eropa sendiri, sudah mulai mengembangkan sustainabililty Wikipedia, yaitu kamus yang yang memfokuskan dampak sebuah produk pada kesehatan dan lingkungan serta dimensi sosial. Goleman juga menjelaskan salah satu distributor produk-produk organik di Eropa yaitu Eosta. Perusahaan ini menjelaskan bahwa para supplier produk mereka adalah para petani. Para petani ini sudah menerapkan pengelolaan air secara efisien untuk menghasilkan produk pertanian. Ada tiga aturan main yang diterapkan adalah kita harus mengetahui setiap dampak yang kita lakukan, berusaha untuk selalu meningkatkan perbaikan, dan berbagilah kepada orang lain apa yang sudah kita pelajari dan lakukan.

Perusahaan dalam menjalankan bisnis harus segera mengubah paradigmanya dengan menerapkan transparansi radikal. Agar transparansi radikal bisa dipercaya, perlu tiga aspek yaitu otoritatif, impartial dan komprehensif. Otoritatif berarti bahwa ada kelompok yang mampu memiliki kompetensi dampak produk. Impartial berarti orang yang mengevaluasi dampak produk pada lingkungan adalah orang yang tidak memiliki kepentingan pribadi, bisa jadi hal ini adalah ombudsman. Komprehensif artinya dampak produk dievaluasi dengan meliputi sejumlah aspek. Perusahaan harus progresif dalam mengembangkan suatu sistem promosi produk yang bisa memberikan informasi semua aktivitas bisnisnya. Ini bisa dijadikan sebagai keunggulan kompetitif. Perusahaan juga harus memberi informasi yang jelas mengenai alasan konsumen harus memiliki perhatian dan rasa sayang terhadap lingkungan. Perusahaan harus menggunakan hal ini sebagai suatu cara untuk bisa meningkatkan reputasi merek produk dan memperluas pangsa pasar produk dengan cara menerapkan Life Ccyle Assessment dan memperhatikan setiap penggunaan supply untuk produk.

Goleman juga menyinggung mengenai aspek etika bisnis dalam memahami setiap konsekuensi bisnis yang dijalankan dalam sektor ekonomi. Sepanjang sejarah manusia, belum ada penghitungan resmi mengenai kerugian yang diciptakan oleh perusahaan atas air, udara, dan tanah. Perusahaan sudah melakukan emisi toksin yang luar biasa. Oleh karena itu, Canadian Boreal Initiative melakukan inisiasi untuk menghitung nilai ekonomis dari penggunaan sumber day alam. Etika pemasaran juga mempertimbangkan hal ini yaitu berkaitan dengan konsekuensi penggunaan. Hal ini penting karena perusahaan sudah menggunakan bahan dari alam, sudah seharusnya memahami setiap konsekuensi dari penggunaan bahan tersebut.

Memang diakui sulit untuk memaksa pemerintah untuk membuat ratifikasi yang ketat pada semua perusahaan yang menjalankan bisnis bahkan bisa memengaruhi diterapkannya pada persyaratan di WTO karena memberikan pajak setinggi-tingginya tidak cukup bagi perusahaan. Perusahaan memang mau tidak mau menerapkan Corporate Social Responsibility. Bagaimana dengan kondisi di perusahaan-perusahaan Indonesia? Kalau dikaitkan dengan contoh perusahaan Goodguide yang dijelaskan oleh Goleman, perusahaan Indonesia khususnya untuk perusahaan yang berorientasi pada consumer goods, belum ada yang menerapkan sistem transparansi radikal. Sistem ini membutuhkan biaya yang cukup mahal karena perusahaan harus mengalokasikan anggaran yang lebih besar untuk mengadakan koleksi informasi dan data mengenai komposisi sebuah produk yang ditinjau dari aspek kesehatan, kemanusiaan, dan lingkungan.  Di samping dana yang besar, tentu saja, perusahaan agak kesulitan untuk bisa melakukan sharing informasi karena ketidakmauan dari para perusahaan untuk membuka tabir informasi mengenai komposisi produk. Meskipun belum dilakukan pengungkapan informasi secara menyeluruh mengenai komposisi produk, perusahaan sudah menerapkan Corporate Social Responsibility. CSR yang diterapkan adalah orientasi pada eco-green. Perusahaan yang mengutamakan orientasi pada proses dan produk “hijau” bisa menjadikannya sebagai senjata untuk memenangkan hati konsumen, meningkatkan profitabilitas, dan memperpanjang umur perusahaan. Perlu disadari bahwa, konsumen sudah mengalami banyak perubahan. Konsumen mengalami peningkatan pemahaman yang besar untuk sadar akan kesehatan diri, kesejahteraan lingkungan, dan keadaan bumi ini. Konsumen memberikan perhatian besar pada aspek tersebut.  Melalui buku ini, Goleman menyarankan bahwa lingkungan kita ini bisa dipelihara dengan dimulai dari diri kita sendiri. Kita sebagai konsumen jangan berpikir bahwa lingkungan tempat kita tinggal sudah terancam punah dan perlu diperbaiki, malahan kita sendiri yang seharusnya diperbaiki pola pikir kita.Diri kitalah yang menentukan untuk melindungi bumi ini. Oleh karena itu, kita mulai memperhatikan  lingkungan di sekitar dengan hal-hal sederhana antara lain menghemat air, listrik, mengurangi penggunaan kertas, mengurangi konsumsi daging, mengurangi penggunaan plastik, membuatan lubang resapan biori. Untuk tingkat selanjutnya, konsumen bisa melakukan dengan kegiatan konsumsi pada produk-produk yang organik dan membeli produk elektronik yang ramah lingkungan serta mulai berani menuntut perusahaan yang mengabaikan lingkungan.

Entry filed under: Resensi Buku. Tags: .

GBPP Bahasa Inggris 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

January 2010
M T W T F S S
    Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts


%d bloggers like this: